
Manajemen itu secara etimologi diambil dari Bahasa
Inggris manage/management yang berarti megatur, mengolah, membimbing
dan memimpin.
Manajemen sendiri adalah sebuah proses perencanaan,
pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai
sasaran secara efektif dan efesiensi. Juga manajemen dengan arti, seni
pencapaian tujuan melalui kerja orang lain.
Istilah manajemen memiliki banyak arti, bergantung
pada orang yang mengartikannya. Terdapat tiga pandangan berbeda; pertama,
mengartikan administrasi lebih luas daripada manajemen (manajemen merupakan
inti dari administrasi); kedua, melihat manajemen lebih luas daripada
administrasi; dan ketiga, pandangan yang menganggap bahwa manajemen identik
dengan administrasi. Dalam hal ini, kata manajemen diartikan sama dengan kata
administrasi atau pengelolaan, meskipun kedua istilah tersebut sering diartikan
berbeda. Dalam berbagai kepentingan, pemakaian kedua istilah tersebut sering
digunakan secara bergantian, demikian halnya dalam berbagai literatur, acapkali
dipertukarkan. Berdasarkan fungsi pokoknya istilah manajemen dan administrasi
mempunyai fungsi yang sama. Karena itu, perbedaan kedua istilah tersebut tidak
konsisten dan tidak signifikan.
Gaffar (1989) mengemukakan bahwa
manajemen pendidikan mengandung arti sebagai suatu proses kerjasama yang
sistematik, sistemik, dan komprehensif dalam rangka mewujudkan tujuan
pendidikan nasional. Manajemen pendidikan juga diartikan sebagai segala sesuatu
yang berkenan dengan pengelolaan proses pendidikan untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan, baik tujuan jangka pendek, menengah maupun tujuan jangka
panjang.
Manajemen atau pengelolaan merupakan
komponen integral dan tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan secara
keseluruhan. Alasannya tanpa manajemen tidak mungkin tujuan pendidikan dapat
diwujudkan secara optimal, efektif, dan efisien. Konsep tersebut berlaku di
sekolah yang memerlukan manajemen yang efektif dan efisien. Dalam kerangka
inilah tumbuh kesadaran akan pentingnya manajemen berbasis sekolah, yang
memberikan kewenangan penuh kepada sekolah dan guru dalam mengatur pendidikan
dan pengajaran, merencanakan, mengorganisasi, mengawasi,
mempertanggungjawabkan, mengatur serta memimpin sumber-sumber dasar insan serta
barang-barang untuk untuk membantu pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan
tujuan sekolah. Manajemen berbasis sekolah juga perlu disesuaikan dengan
kebutuhan dan minat peserta didik, guru-guru, serta kebutuhan masyarakat
setempat. Untuk itu, perlu dipahami fungsi-fungsi pokok manajemen, yaitu
perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan pembinaan.
Selanjutnya, keempat fungsi tersebut
dapat dideskripsikan sebagai berikut. Perencanaan merupakan proses sistematis
dalam pengambilan keputusan tentang tindakan yang akan dilakukan pada waktu
yang akan datang. Perencanaan juga merupakan kumpulan kebijakan yang secara
sistematis disusun dan dirumuskan berdasarkan data yang dapat
dipertanggungjawabkan serta dapat dipergunakan sebagai pedoman kerja. Dalam
perencanaan terkandung makna pemahaman terhadap apa yang telah dikerjakan,
permasalahan yang dihadapi dan alternatif pemecahannya, serta untuk
melaksanakan prioritas kegiatan yang telah ditentukan secara proporsional.
Pelaksanaan merupakan kegiatan untuk
merealisasikan rencana menjadi tindakan nyata dalam rangka mencapai tujuan
secara efektif dan efesien. Rencana yang telah disusun akan memiliki nilai jika
dilaksanakan dengan secara efektif dan efesien. Dalam pelaksanaan, setiap
organisasi harus memiliki kekuatan yang mantap dan meyakinkan sebab jika tidak
kuat, maka proses pendidikan seperti yang diinginkan sulit terealisasi.
Pengawasan dapt diartikan sebagai
upaya untuk mengamati secara sistematis dan berkesinambungan; merekam; memberi
penjelasan, petunjuk, pembinaan dan meluruskan berbagai hal yang kurang tepat;
serta memperbaiki kesalahan. Pengawasan, merupakan kunci keberhasilan dalam
keseluruhan tentang manajemen, perlu dilihat secara komprehensif, terpadu dan
tidak tebatas pada hal-hal tertentu.
Pembinaan merupakan rangkaian upaya
pengendalian secara professional semua unsur organisasi agar berfungsi sebagaimana
mestinya sehingga rencana untuk mencapai tujuan dapat terlaksana dengan efektif
dan efesien.
Melalui manajemen sekolah yang
eektif dan efesien tersebut, diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap
peningkatan kualitas pendidikan secara keseluruhan. Selama ini aspek manajemen
pendidikan pada berbagai tingkat dan satuan pendidikan belum mendapat perhatian
yang serius sehingga seluruh komponen sistem pendidikan kurang berfungsi dengan
baik. Lemahnya manajemen pendidikan juga memberikan dampak terhadap efesiensi
internal pendidikan yang terlihat dari jumlah peserta didik yang mengulang
kelas dan putus sekolah.
Manajemen pendidikan merupakan
alternatif strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Hasil penelitian
Balitbang-dikbud (1991) menunjukkan bahwa manajemen sekolah merupakan salah
satu faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan. Manajemen sekolah secara
langsung akan mempengaruhi dan menentukan efektif tidaknya kurikulum, berbagai peralatan
belajar, waktu mengajar, dan proses pembelajaran. Dengan demikian, upaya
peningkatan kualitas pendidikan harus dimulai dengan pembenahan manajemen
sekolah, di samping peningkatan kualitas guru dan pengembangan sumber belajar.
Dalam manajemen pendidikan dikenal
dua mekanisme pengaturan yaitu, sistem sentralisasi dan desentralisasi.dalam sistem
sentralisasi, segala sesuatu yang berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan
diatur secara ketat oleh pemerintah pusat. Sementara dalam sistem
desentralisasi, wewenang pengaturan tersebut diserahkan kepada pemerintah
daerah. Kedua sistem tersebut dalam prakteknya tidak berlaku secara ekstrim,
tapi merupakan bentuk kontinum; dengan pembagian tugas dan wewenang antara
pemerintah pusat dan pemerintah daerah (lokal). Hal ini juga berlaku di
Indonesia, sebagaimana dijelaskan dalam Penjelasan UUSPN 1989 bahwa pendidikan
nasional diatur secara terpusat (sentralisasi), namun penyelenggaraan satuan
dan kegiatan pendidikan dilaksanakan secara tidak terpusat (desentralisasi).
Hal tersebut cukup beralasan karena masing-masing mempunyai kelebihan dan
kekurangan sehingga untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya dan
mengurangi segi-segi negatif, pengelolaan pendidikan tersebut memadukan sistem
sentralisasi dan desentralisasi.
Dalam pelaksanaan manajemen berbasis
sekolah, pendekatan sentralistik masih diperlukan, terutama untuk menentukan
kurikulum pendidikan nasional dan menetapkan anggaran agar dapat dicapai
kesamaan dan pemerataan standar pendidikan di seluruh wilayah tanah air.
Manajemen sekolah pada hakikatnya mempunyai
pengertian yang hampir sama dengan manajemen pendidikan. Ruang lingkup dan
bidang kajian manajemen sekolah juga merupakan ruang lingkup dan bidang kajian
manajemen pendidikan. Namun demikian, manajemen sekolah merupakan bagian dari
manajemen pendidikan, atau penerapan manajemen pendidikan dalam organisasi
sekolah sebagai salah satu komponen dari sistem pendidikan yang berlaku.
Manajemen sekolah terbatas pada satu sekolah saja, sedangkan manajemen
pendidikan meliputi seluruh komponen sistem pendidikan, bahkan bisa menjangkau sistem
yang lebih luas dan besar (suprasistem) secara regional, nasional, bahkan
internasional. Sedikitnya terdapat tujuh komponen sekolah yang harus dikelola
dengan baik, yaitu kurikulum dan program pengajaran, tenaga kependidikan, kesiswaan,
keuangan, sarana dan prasarana pendidikan, pengelolaan hubungan sekolah dan
masyarakat serta manajemen pelayanan khusus lembaga pendidikan.
Manajemen kurikulum dan program
pengajaran mencakup kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian kurikulum.
Hal ini telah dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional pada tingkat pusat.
Karena level sekolah yang paling penting adalah bagaimana merealisasikan dan
menyesuaikan kurikulum tersebut dengan kegiatan pembelajaran. Di samping itu,
sekolah juga bertugas dan berwenang untuk mengembangkan kurikulum muatan lokal
sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan lingkungan setempat.
Manajemen tenaga kependidikan
bertujuan untuk mendayagunakan tenaga kependidikan secara efektif dan efisien
untuk mencapai hasil yang optimal, namun tetap dalam kondisi yang menyenangkan.
Manajemen tenaga kependidikan (guru dan personil) mencakup (1) perencanaan
pegawai (2) pengadaan pegawai (3) pembinaan dan pengembangan pegawai (4)
promosi dan mutasi (5) pemberhentian pegawai (6) kompensasi dan (7) penilaian
pegawai.
Manajemen kesiswaan merupakan
penataan dan pengaturan terhadap kegiatan yang berkaitan dengan peserta didik,
mulai masuk sampai dengan keluarnya peserta didik tersebut dari sekolah.
Manajemen ini bertujuan untuk mengatur berbagai kegiatan dalam bidang kesiswaan
agar kegiatan pembelajaran dapat berjalan lancar, tertib dan teratur, serta
mencapai tujuan pendidikan sekolah. Untuk mewujudkannya, biadang manajemen
kesiswaan sedikitnya memiliki tiga tugas utama yang harus diperhatikan, yaitu
penerimaan murid baru, kegiatan kejuan belajar, serta bimbingan dan pembinaan
disiplin.
Berdasarkan
tiga tugas tersebut maka Sutisna (1985) menjabarkan tanggungjawab kepala
sekolah dalam mengelola bidang kesiswaan berkaitan dengan hal-hal berikut :
1. Kehadiran
murid di sekolah dan masalah-masalah yang berhubungan dengan itu.
2. Penerimaan,
orientasi, klasifikasi dan penunjukan murid ke kelas dan program studi.
3. Evaluasi
dan pelaporan kemajuan belajar.
4. Program
supervisi bagi murid yang menpunyai kelainan, seperti pengajaran, perbaikan,
dan pengajaran luar biasa.
5. Pengendalian
disiplin murid.
6. Program
bimbingan dan penyuluhan.
7. Program
kesehatan dan keamanan.
8. Penyesuaian
pribadi, sosial, dan emosional.
Dalam
penyelenggaraan pendidkan, keuangan dan pembiayaan merupakan potensi yang
sangat menentukan dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kajian
manajemen pendidikan. Komponen ini yang menentukan terlaksananya kegiatan proses
belajar mengajar di sekolah bersama komponen lain.
Manajemen
sarana dan prasarana pendidikan bertugas mengatur dan menjaga sarana prasarana
pendidikan agar dapat memberikan kontribusi secara optimal dan berarti pula
jalannya proses pendidikan. Kegiatan manajemen ini meliputi kegiatan
perencanaan, pengadaan, pengawasan, penyimpanan inventarisasi, dan penghapusan
serta penataan.
Manajemen
hubungan sekolah dengan masyarakat bertujuan antara lain untuk (1) memajukan
kualitas pembelajaran, dan pertumbuhan anak (2) memperkokoh tujuan serta
meningkatkan kualitas hidup dan penghidupan masyarakat dan (3) menggairahkan
masyarakat untuk menjalin hubungan dengan sekolah.
Manajemen
layanan khusus meliputi manajemen perpustakaan, kesehatan, dan keamanan
sekolah. Perpustakaan yang lengkap dan dikelola dengan baik memungkinkan
peserta didik untuk lebih mengembangkan dan mendalami pengetahuan yang
diperolehnya di kelas melalui belajar mandiri, baik diwaktu-waktu kosong di
sekolah maupun di rumah. Di samping itu, juga memungkinkan guru untuk
mengembangkan pengetahuan secara mandiri, dan juga dapat mengajar dengan metode
bervariasi, misalnya belajar individual.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar