Rabu, 19 Maret 2014



DAFTAR ISI

Kata Pengantar………………………………………………………………………….      i
Daftar Isi………………………………………………………………………………..       ii
Bab I Pendahuluan…………………………………………….………………………..      2
Bab II Pembahasan……………………………………………………………………..       2
            2.1 Makna Konseptual…………...………………………………………………     3
            2.2 Makna Konotatif………….…………………………………………………     3
            2.3 Makna Stilistik…………….………………………..........................................  4
            2.4 Makna Afektif…………………………………………………………. ……  6
            2.5 Makna Refleksi……………………………………………………………         8
            2.6 Makna Kolokatif…………………………………….......................................  9
            2.7 Makna Tematik…………………………………….........................................  10
Bab III Penutup………………………………………………………………………....    
            Kesimpulan……………………………………………………………………….    11
Daftar Pustaka…………………………………………………………………………...    







BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
            Semantik merupakan pusat studi tentang pikiran manusia yaitu proses berpikir, kognisi, dan konseptualisasi. Semua ini saling berkaitan dengan cara mengklasifikasikan dan mengemukakan pengalaman tentang dunia nyata melalui bahasa. Di dalam dua cara tersebut yaitu  memandang dan mengadakan studi terhadap manusia, maka semantik merupakan titik pertemuan berbagai persilangan arus berpikir dan berbagai disiplin ilmu. Seringkali semantik tampak membingungkan karena terdapat berbagai pendekatan dan cara menghubungkanya dengan ilmu lain yang sangat sedikit penjelasannya, bahkan juga bagi penulis tentang semantik itu sendiri.
Dengan demikian, harus diakui bahwa tuntutan utama semantik adalah masalah intelektual. Penggunaan pemahaman tersebut untuk pemahaman yang faktual sejajar dengan ilmu matematika. Hanya setelah mendapatkan pemahaman demi pemahaman itulah seseorang dapat memperoleh kearifan yang terdapat di dalamnya dan makalah ini disusun berdasarkan pengumpulan materi dari berbagai referensi yang menunjang pembahasan permasalahan. Dalam hal ini ialah pembahasan mengenai “Tujuh Tipe Makna”. Materi yang berhasil dikumpulkan, didiskusikan bersama anggota kelompok untuk mendapatkan pembahasan yang terbaik terkait materi yang akan dikupas.




Tujuan
            Makalah ini disusun bertujuan untuk menambah pengetahuan mengenai semantik dan hubungannya dengan disiplin ilmu yang lain. Dengan makalah ini diharapkan pembaca dapat mengambil informasi mengenai kajian yang dibahas.
1.3 Ruang Lingkup
            Pembahasan materi dalam makalah ini dibatasi pada lingkup hakikat semantik dan kaitannya dengan ilmu lain. Dalam hal ini penulis hanya memaparkan kajian teori mengenai semantik yang meliputi pengertian semantik, hubungan semantik dengan disiplin ilmu yang lain, jenis-jenis semantik, serta manfaat semantik dalam kehidupan.














BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Makna Konseptual
            Makna konseptual adalah isi yang logis, kognitif, atau denotatif. Pengertian luasnya dianggap sebagai faktor sentral dalam komunikasi bahasa dan dapat ditunjukkan sebagai suatu yang terpadu bagi fungsi esensial atas suatu bahasa dan tidak tipe makna yang lain. Namun tidak berarti pula bahwa makna konseptual selalu merupakan unsur terpenting dalam suatu makna bahasa. 
2.2 Makna Konotatif
            Makna Konotatif merupakan nilai komunikatif dari satu ungkapan menurut apa yang diacu, melebihi dari isi murni konseptual. Pengertian ‘acuan’ bertumpah-tindih dengan makna konseptual. Jika kata ‘ woman’ (wanita) dibuat defenisinya secara konseptual melalui 3 sifat:
1.      Manusia
2.      Perempuan
3.      Dewasa
Maka sifat itu ‘manusia’,’dewasa’ dan perempuan’ haruslah memberikan criteria penggunaan kata secara benar. Sifat yang sebaliknya dijabarkan ke dalam istilah ‘dunia nyata’, menjadi atribut acuannya (yang diacu oleh kata itu). Acuan itu tidak hanya meliputi fisik (berkaki dua’, ‘memiliki rahim) tetapi juga bersifat spikis  dan social (‘suka berteman,’memiliki naluri keibuan’)dan dapat diperluas kea rah sifat-sifat yang bersifat yang hanya bersifat tipikal dan bukannya selalu ada di dalam kewanitaan (‘pamdai bicara’, ‘pandai masak’, ‘memakai rok atau gaun’).
Membicarakan kontasi, sebenarnya berbicara tentang pengalaman di ‘dunia nyata’ yang diasosiasian dengan ungkapan ketika seseorang menggunakan atau mendengarnya.
Makna konotatif memiiki wilayah jika dibandingkan dengan makna konseptual. Konotasi itu, relative tidak stabil, artinya konotasi itu banyak berubah-rubah menurut budayanya, masanya, dan pengalaman individu.
Makna konotatif tidaklah pasti dan terbuka, dan makna konseptual tidaklah demikia. Makna kotatif adalah terbuka seperti halnya pengetahuan kepercayaan kita terhadap alam semesta yang juga terbuka, setiap karakteristik yang ditandai secara abjektif, mungkin mendukung makna konotatif dari ungkapan yang menandainya. Sebaliknya, hal itu dipakai sebagai dasar oleh seeorang yang menyelidiki makna konseptual bahwa makna suatu kata atau kalimat dapat dikodifikasikan dalam arti seperangkat symbol yang terbatas (misalnya saja dalam bentuk seperangkat sifat seperti makna tertentu).
2.3 Makna Stilistik
            MAKNA STILISTIK adslah makna sebuah kata yang menunjukkan lingkungan sosial penggunaannya. Kita mengenali beberapa kata atau ucapan sebagai dialek, yaitu yang menunjukkan kepada kita tentang asal-usul penutur menurut lingkungan geografis atau lingkungan sosialnya. Cirri lain dari bahasa menunjukkan kepada kita sesuatu tentang hubungan sosial antara penutur dan pendengarnya. Dikenal beberapa dimensi utama variasi gaya atau stilistik, yaitu :
a. (bentuk gaya yang relative permanen)
            INDIVIDUALITAS (Bahasa Pak A Bu B dan Nona C)
            DIALEK (Wilayah geografis bahasa atau kelas sosial)
            WAKTU (Bahasa abad XVIII dsb)
b. Penyampaian Gagasan
            (a) SARANA (pidato, tulisan dsb)
            (b) PARTISIPASI (monolog, dialog, dsb)
c. (bentuk gaya yang relatif temporer)
            WILAYAH KERJA ‘(Bahasa hokum, ilmiah, iklan, dsb)
            STATUS (Bahasa sopan, santai, dsb)
            MODALITAS (Bahasa catatan, kuliah, lelucon, dsb)
            Meskipun tidak tuntas, daftar ini menunjukkan sesuatu dari deretan perbedaan gaya yang mungkin terdapat di dalam suatu bahasa. Barangkali tidak mengherankan bahwa kita jarang menemukan kata yang mempunyai makna konseptual yang sekaligus juga makna stilistik yang sama. pendapat ini seringkali menimbulkan pendapat bahwa ‘sinonim yang betul-betul tidak ada’. Jika kita memahami sinonimi sebagai persamaan yang lengkap dari efek komunikatif, maka sulit sekali untuk mendapatkan contoh yang bertentangan dengan pernyataan tersebut. Tetapi lebih baik jika kita membatasi istilah’sinonimi’ itu sebagai persamaan makna konseptual, sehingga dengan demikian kita dapat membandingkan sinonim konseptual dalam kaitannya dengan warna-warna stilistik yang beragam. Dimensi gaya bahasa ‘status’ sangatlah penting untuk membedakan ungkapan sinonim.
            Jika kita sedikit memperluas ide tentang situasi bahasa, kita akan melihat bahwa bahasa juga dapat mencerminkan perasaan pribadi penutur, termasuk sikapnya terhadap pendengarnya, atau sikapnya mengenai sesuatu yang dikatakannya.
2.4 Makna Afektif
MAKNA AFEKTIF, yaitu istilah yang dipakai untuk jenis makna diatas, seringkali secara eksplisit diwujudkan dengan kandungan konseptual atau konotatif dari kata-kata yang dipergunakan. Seseorang yang ditegur dengan kata-kata :
Anda adalah brandal yang kejam karena itu saya benci kepadamu!” akan bertanya-tanya bagaimana kiranya perasaan si penutur terhadapnya. Ada juga cara yang tidak begitu langsung untuk menunjukkan sikap kita seperti di atas, misalnya dengan memberikan skala peringatan sesuai dengan kesopanan. Dengan tujuan untuk meminta orang-orang diam, kita dapat mengatakan :
Maafkan saya mengganggu, tetapi apakah sekiranya Anda bersedia untuk berbicara tidak terlalu keras”
Atau
diamlah”
            Faktor-faktor seperti intonasi dan gema suara disini penting juga. Kesan sopan pada kalimat “Maafkan saya mengganggu, tetapi apakah sekiranya Anda bersedia untuk berbicara tidak terlalu keras”dapat berbalik kalau dipakai nada sarkastis yang tajam, kalimat “diamlah” dapat diubah menjadi peringatan yang sifatnya santai di antara teman dekat, jika disampaikan dengan intonasi permintaan dengan nada lembut.
            Makna afektif sebagian besar termasuk kategori parasit dalam arti bahwa untuk mengungkapakan emosi, kita menggunakan perantara kategori makna yang lain- konseptual, konotatif, atau statilistik. Ungkapan emosional melalui gaya misalnya saja terlontar jika kita menggunakan nada tidak sopan untuk mengungkapkan ketidaksenangan. Disamping itu ada unsure-unsur bahsa (terutama kata sru Aha!) yang fungsi pokoknya adalah untuk mengungkapkan emosi. Jika kita menggunakan ini, kita mengkomunikasikan perasaan dan sikap tanpa perantara fungsi semantik lain.
2.5 Makna Refleksi
            Dua makna lagi meskipun tidak begitu penting dan saling berhubungan pada tingkat leksikal bahasa.
            Pertama, makna refleksi adalah makna yang timbul dalam hal makna konseptual ganda, jika suatu pengertian kata membentuk sebagian dari respon kita terhadap pengertian lain. Di dalam upacara di gereja, jika kita mendengar ungkapan sinonim The Comforter (sang penghibur) dan the holly  ghost (roh kudus), keduanya menunjuk pada tritunggal dalam bentuk orang ketiga. Reaksi saya terhadap istilah tersebut terbentuk oleh makna nonreligius dari comfort (penghiburan) dan ghos (roh). Sang penghibur kedengarannya  hangat daan memberikan hiburan (meskipun di dalam konteks) religious itu berarti yang memperkuat  atau yang mendukung sedangkan roh kudus kedengarannya sangat menakutkan.
            Suatu arti kata yang tampaknya menghapus arti lain dengan cara ini hnyalah jika pengertian itu memiliki daya sugestif yang dominan baik melalui frekuensi ataupun kebiasaan yang bersifat relative (seperti halnya roh kudus). Atau melalui kekuatan asosiasinya. Hanya dalam puisi yang menghendaki kepekaan tinggi terhadap bahasa di dalam segala hal, kita menemukan makna refleksi itu bekerja dalam suasana yang kurang jelas. Contohnya :
            Are limbs, so dear-archieved, are slides,
            Full - nerved - still warm – to hard stir?
            Pada baris-baris dari futility, penyair tentang seorang prajurit yang gugur, Wilfred Owen, dengan berlebihan menggunakan kata dear dalam arti mahal, tetapi juga menyinggung orang merasakan di dalam konteks penyair itu, pada pengertian tercinta.
            Makna kolokatif terdiri atas asosiasi-asosiasi yang diperoleh suatu kata, yang disebabkan oleh makna kata-kata yang cenderung muncul di dalam lingkungannya. Kata pretty dan handsome  memiliki dasar yang sama dalam arti sedap dipandang, menurut istilah linguistic to coocur atau menjadi kata sandingannya.
Pretty :  girl - boy – woman – flower – garden – colour – village – daan sebagainya.
Hansome : boy – man – car – vessel – overcoat – arline – typewriter – dan sebagainya.
            Sudah barang tentu susunan kata-kata benda itu dapat saja terjadi saling tertukar, sebagai contoh handsome woman dan pretty woman kedua bentuk pemakaian itu sama-sama bisa diterima, meskipun kata-kata itu mengisyaratkan daya tarik yang berbeda yang disebabkan oleh asosiasi kolokatif dari kedua sifat di atas. 
2.6 Makna Kolokatif
Makna kolokatif terdiri atas asosioasi-asosiasi yang diperoleh suatu kata yang disebabkan oleh makna kata-kata yang cederung di dalam lingkunganya. Kata cantik dan gagah memiliki dasar yang sama dalam arti sedap dipandang, namun demikian kata itu bisa dibedakan menurut beberapa kata benda lain yang mungkin menyertainya atau enjadi sandingannya.
            Sudah barang tentu susunan kata-kata benda itu dapat saja terjadi saling tukar sebagai contoh wanita itu gagah dan wanita itu cantik, kedua bentuk pemakaian itu sama-sama diterima mesipun kata-kata itu mengisyaratkan daya tarik yang berbeda yang disebabkan oleh asosiasi kolokatif dari kedua sifat di atas. Tidak semua perbedaan dalam suatu kasus yang potensial harus dijelaskan sebagai makna klokatif arena ada yang mungkin disebabkan oleh perbedaan stilistik yang lainkarena perbedaan konseptual. Meskipun kedua kata ituartinya sama, yaiu sedap dipandang jika dipertentangkan dengan kata wanita menunjukkan permasalahan ketepatan tingkat konseptual. Hanya kalau penjelasan menutrut kategor makna yang lain tidak bisa diterapkan, maka kita perlu menggunakan kategori khusus mengenai makna kolokatif.pada tigkat-ingkat yang lain kita dapat mengadakan generalisasi, sementara makna kolokatif tetap merupakan sifat idiosinkretik (ganajl) dari kata-kata tertentu.
2.7 Makna Tematik
Makna tematik atau makna yang dikomunikasikan oleh cara penutur atau penulis menata pesannya, dalam arti menurut urutan,fokus dan penekanan. Sebagai contoh, sering kali kita rasakan bahwa sebuah kalimat aktif  seperti “ budi menyumbangkan sembako “ memiliki makna yang berbeda dari kalimat pasif  yang setara “sembako disumbangkan oleh budi”
Tentu saja kedua kalimat diatas memiliki nilai komunikatif  yang berbeda, dimana keduanya menyuguhkan konteks yang berlainan. Namun demikian, terdapat kondisi nyata yang sam-sama cocok dengan kedua kalimat diatas, yakni:  rasanya mustahil untuk menemukan situasi dimana kalimat(1) adalah laporan yang akurat, sementara kalimat(2) tidak akurat dan sebaliknya.

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Studi semantik diartikan sebagai bidang dalam linguistik, yang meneliti atau membicarakan tentang makna bahasa sebagai objek kajiannya. Semantik ini perlu di kedepankan karena dalam kebudayaan kita yang mempunyai makna itu bukan hanya bahasa melainkan juga berbagai lamabang, simbol, tanda-tanda lainnya.  Fokus kajian semantik hanya makna bahasa, bukan semua macam makna yang ada dalam kehidupan kita. Sedangkan bidang studi yang mengkaji berbagai macam makna yang ada dalam kebudayaan kita disebut semiotika.
Makna bahasa itu bermacam-macam dilihat dari segi atau pandangan yang berbeda. Hal ini disebabkan karena bahasa digunakan dalam berbagai kegiatan dan keperluan manusia dalam melakukan interaksi sosial. Sehingga melahirkan berbagai konsep tentang jenis-jenis makna yang mencakup makna dasar, konotatif, stilistika, afektif, refleksi, koloaktif, konseptual, tematik, leksikal, gramatikal, kontekstual, referensial, non-referensial, denotatif, konotatif, asosiatif, makna kata, makna istilah, idiom, dan peribahasa.

Daftar Pustaka
Leech,Geoffrey.2003.Semantik.Yogyakarta; Pustaka Pelajar