DAFTAR ISI
Kata
Pengantar…………………………………………………………………………. i
Daftar
Isi……………………………………………………………………………….. ii
Bab
I Pendahuluan…………………………………………….……………………….. 2
Bab
II Pembahasan…………………………………………………………………….. 2
2.1 Makna Konseptual…………...……………………………………………… 3
2.2 Makna Konotatif………….………………………………………………… 3
2.3 Makna Stilistik…………….……………………….......................................... 4
2.4 Makna Afektif…………………………………………………………. …… 6
2.5 Makna Refleksi…………………………………………………………… 8
2.6 Makna Kolokatif……………………………………....................................... 9
2.7 Makna Tematik……………………………………......................................... 10
Bab
III Penutup………………………………………………………………………....
Kesimpulan………………………………………………………………………. 11
Daftar
Pustaka…………………………………………………………………………...
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Semantik
merupakan pusat studi tentang pikiran manusia yaitu proses berpikir, kognisi,
dan konseptualisasi. Semua ini saling berkaitan dengan cara mengklasifikasikan
dan mengemukakan pengalaman tentang dunia nyata melalui bahasa. Di dalam dua
cara tersebut yaitu memandang dan
mengadakan studi terhadap manusia, maka semantik merupakan titik pertemuan
berbagai persilangan arus berpikir dan berbagai disiplin ilmu. Seringkali
semantik tampak membingungkan karena terdapat berbagai pendekatan dan cara
menghubungkanya dengan ilmu lain yang sangat sedikit penjelasannya, bahkan juga
bagi penulis tentang semantik itu sendiri.
Dengan demikian, harus diakui bahwa
tuntutan utama semantik adalah masalah intelektual. Penggunaan pemahaman
tersebut untuk pemahaman yang faktual sejajar dengan ilmu matematika. Hanya
setelah mendapatkan pemahaman demi pemahaman itulah seseorang dapat memperoleh
kearifan yang terdapat di dalamnya dan makalah ini disusun berdasarkan
pengumpulan materi dari berbagai referensi yang menunjang pembahasan
permasalahan. Dalam hal ini ialah pembahasan mengenai “Tujuh Tipe Makna”. Materi yang
berhasil dikumpulkan, didiskusikan bersama anggota kelompok untuk mendapatkan
pembahasan yang terbaik terkait materi yang akan dikupas.
Tujuan
Makalah
ini disusun bertujuan untuk menambah pengetahuan mengenai semantik dan
hubungannya dengan disiplin ilmu yang lain. Dengan makalah ini diharapkan
pembaca dapat mengambil informasi mengenai kajian yang dibahas.
1.3 Ruang
Lingkup
Pembahasan
materi dalam makalah ini dibatasi pada lingkup hakikat semantik dan kaitannya
dengan ilmu lain. Dalam hal ini penulis hanya memaparkan kajian teori mengenai
semantik yang meliputi pengertian semantik, hubungan semantik dengan disiplin
ilmu yang lain, jenis-jenis semantik, serta manfaat semantik dalam kehidupan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Makna
Konseptual
Makna
konseptual adalah isi yang logis, kognitif, atau denotatif. Pengertian luasnya
dianggap sebagai faktor sentral dalam komunikasi bahasa dan dapat ditunjukkan
sebagai suatu yang terpadu bagi fungsi esensial atas suatu bahasa dan tidak
tipe makna yang lain. Namun tidak berarti pula bahwa makna konseptual selalu
merupakan unsur terpenting dalam suatu makna bahasa.
2.2 Makna Konotatif
Makna Konotatif merupakan nilai
komunikatif dari satu ungkapan menurut apa yang diacu, melebihi dari isi murni konseptual. Pengertian ‘acuan’
bertumpah-tindih dengan makna konseptual. Jika kata ‘ woman’ (wanita) dibuat defenisinya secara konseptual melalui 3
sifat:
1. Manusia
2. Perempuan
3. Dewasa
Maka sifat itu ‘manusia’,’dewasa’ dan perempuan’ haruslah
memberikan criteria penggunaan kata secara benar. Sifat yang sebaliknya
dijabarkan ke dalam istilah ‘dunia nyata’, menjadi atribut acuannya (yang diacu
oleh kata itu). Acuan itu tidak hanya meliputi fisik (berkaki dua’, ‘memiliki
rahim) tetapi juga bersifat spikis dan
social (‘suka berteman,’memiliki naluri keibuan’)dan dapat diperluas kea rah
sifat-sifat yang bersifat yang hanya bersifat tipikal dan bukannya selalu
ada di dalam kewanitaan (‘pamdai bicara’, ‘pandai masak’, ‘memakai rok atau
gaun’).
Membicarakan kontasi, sebenarnya berbicara tentang
pengalaman di ‘dunia nyata’ yang diasosiasian dengan ungkapan ketika seseorang
menggunakan atau mendengarnya.
Makna konotatif memiiki wilayah jika dibandingkan
dengan makna konseptual. Konotasi itu, relative tidak stabil, artinya konotasi
itu banyak berubah-rubah menurut budayanya, masanya, dan pengalaman individu.
Makna konotatif tidaklah pasti dan terbuka, dan
makna konseptual tidaklah demikia. Makna kotatif adalah terbuka seperti halnya
pengetahuan kepercayaan kita terhadap alam semesta yang juga terbuka, setiap
karakteristik yang ditandai secara abjektif, mungkin mendukung makna konotatif
dari ungkapan yang menandainya. Sebaliknya, hal itu dipakai sebagai dasar oleh
seeorang yang menyelidiki makna konseptual bahwa makna suatu kata atau kalimat
dapat dikodifikasikan dalam arti seperangkat symbol yang terbatas (misalnya
saja dalam bentuk seperangkat sifat seperti makna tertentu).
2.3 Makna Stilistik
MAKNA
STILISTIK adslah makna sebuah kata yang menunjukkan lingkungan sosial
penggunaannya. Kita mengenali beberapa kata atau ucapan sebagai dialek, yaitu
yang menunjukkan kepada kita tentang asal-usul penutur menurut lingkungan
geografis atau lingkungan sosialnya. Cirri lain dari bahasa menunjukkan kepada kita
sesuatu tentang hubungan sosial antara penutur dan pendengarnya. Dikenal
beberapa dimensi utama variasi gaya atau stilistik, yaitu :
a.
(bentuk gaya yang relative permanen)
INDIVIDUALITAS (Bahasa Pak A Bu B
dan Nona C)
DIALEK (Wilayah geografis bahasa
atau kelas sosial)
WAKTU (Bahasa abad XVIII dsb)
b.
Penyampaian Gagasan
(a) SARANA (pidato, tulisan dsb)
(b) PARTISIPASI (monolog, dialog,
dsb)
c.
(bentuk gaya yang relatif temporer)
WILAYAH KERJA ‘(Bahasa hokum,
ilmiah, iklan, dsb)
STATUS (Bahasa sopan, santai, dsb)
MODALITAS (Bahasa catatan, kuliah,
lelucon, dsb)
Meskipun tidak tuntas, daftar ini
menunjukkan sesuatu dari deretan perbedaan gaya yang mungkin terdapat di dalam
suatu bahasa. Barangkali tidak mengherankan bahwa kita jarang menemukan kata
yang mempunyai makna konseptual yang sekaligus juga makna stilistik yang sama.
pendapat ini seringkali menimbulkan pendapat bahwa ‘sinonim yang betul-betul
tidak ada’. Jika kita memahami sinonimi sebagai persamaan yang lengkap dari
efek komunikatif, maka sulit sekali untuk mendapatkan contoh yang bertentangan
dengan pernyataan tersebut. Tetapi lebih baik jika kita membatasi
istilah’sinonimi’ itu sebagai persamaan makna konseptual, sehingga dengan
demikian kita dapat membandingkan sinonim konseptual dalam kaitannya dengan
warna-warna stilistik yang beragam. Dimensi gaya bahasa ‘status’ sangatlah
penting untuk membedakan ungkapan sinonim.
Jika kita sedikit memperluas ide
tentang situasi bahasa, kita akan melihat bahwa bahasa juga dapat mencerminkan
perasaan pribadi penutur, termasuk sikapnya terhadap pendengarnya, atau
sikapnya mengenai sesuatu yang dikatakannya.
2.4 Makna Afektif
MAKNA
AFEKTIF, yaitu istilah yang dipakai untuk jenis makna diatas, seringkali secara
eksplisit diwujudkan dengan kandungan konseptual atau konotatif dari kata-kata
yang dipergunakan. Seseorang yang ditegur dengan kata-kata :
“Anda adalah brandal yang kejam karena itu
saya benci kepadamu!” akan bertanya-tanya bagaimana kiranya perasaan si
penutur terhadapnya. Ada juga cara yang tidak begitu langsung untuk menunjukkan
sikap kita seperti di atas, misalnya dengan memberikan skala peringatan sesuai
dengan kesopanan. Dengan tujuan untuk meminta orang-orang diam, kita dapat
mengatakan :
“Maafkan saya mengganggu, tetapi apakah
sekiranya Anda bersedia untuk berbicara tidak terlalu keras”
Atau
“diamlah”
Faktor-faktor seperti intonasi dan
gema suara disini penting juga. Kesan sopan pada kalimat “Maafkan saya mengganggu, tetapi apakah sekiranya Anda bersedia untuk
berbicara tidak terlalu keras”dapat berbalik kalau dipakai nada sarkastis
yang tajam, kalimat “diamlah” dapat
diubah menjadi peringatan yang sifatnya santai di antara teman dekat, jika
disampaikan dengan intonasi permintaan dengan nada lembut.
Makna afektif sebagian besar termasuk
kategori parasit dalam arti bahwa untuk mengungkapakan emosi, kita menggunakan
perantara kategori makna yang lain- konseptual, konotatif, atau statilistik.
Ungkapan emosional melalui gaya misalnya saja terlontar jika kita menggunakan
nada tidak sopan untuk mengungkapkan ketidaksenangan. Disamping itu ada
unsure-unsur bahsa (terutama kata sru Aha!) yang fungsi pokoknya adalah untuk
mengungkapkan emosi. Jika kita menggunakan ini, kita mengkomunikasikan perasaan
dan sikap tanpa perantara fungsi semantik lain.
2.5 Makna Refleksi
Dua makna lagi meskipun tidak begitu
penting dan saling berhubungan pada tingkat leksikal bahasa.
Pertama, makna refleksi adalah makna
yang timbul dalam hal makna konseptual ganda, jika suatu pengertian kata
membentuk sebagian dari respon kita terhadap pengertian lain. Di dalam upacara
di gereja, jika kita mendengar ungkapan sinonim The Comforter (sang penghibur)
dan the holly ghost (roh kudus),
keduanya menunjuk pada tritunggal dalam bentuk orang ketiga. Reaksi saya
terhadap istilah tersebut terbentuk oleh makna nonreligius dari comfort
(penghiburan) dan ghos (roh). Sang penghibur kedengarannya hangat daan memberikan hiburan (meskipun di
dalam konteks) religious itu berarti yang memperkuat atau yang mendukung sedangkan roh kudus kedengarannya
sangat menakutkan.
Suatu arti kata yang tampaknya
menghapus arti lain dengan cara ini hnyalah jika pengertian itu memiliki daya
sugestif yang dominan baik melalui frekuensi ataupun kebiasaan yang bersifat
relative (seperti halnya roh kudus). Atau melalui kekuatan asosiasinya. Hanya
dalam puisi yang menghendaki kepekaan tinggi terhadap bahasa di dalam segala
hal, kita menemukan makna refleksi itu bekerja dalam suasana yang kurang jelas.
Contohnya :
Are limbs, so dear-archieved, are
slides,
Full - nerved - still warm – to hard
stir?
Pada baris-baris dari futility,
penyair tentang seorang prajurit yang gugur, Wilfred Owen, dengan berlebihan
menggunakan kata dear dalam arti mahal, tetapi juga menyinggung orang merasakan
di dalam konteks penyair itu, pada pengertian tercinta.
Makna kolokatif terdiri atas
asosiasi-asosiasi yang diperoleh suatu kata, yang disebabkan oleh makna
kata-kata yang cenderung muncul di dalam lingkungannya. Kata pretty dan
handsome memiliki dasar yang sama dalam
arti sedap dipandang, menurut istilah linguistic to coocur atau menjadi kata
sandingannya.
Pretty
: girl - boy – woman – flower – garden –
colour – village – daan sebagainya.
Hansome
: boy – man – car – vessel – overcoat – arline – typewriter – dan sebagainya.
Sudah barang tentu susunan kata-kata
benda itu dapat saja terjadi saling tertukar, sebagai contoh handsome woman dan
pretty woman kedua bentuk pemakaian itu sama-sama bisa diterima, meskipun
kata-kata itu mengisyaratkan daya tarik yang berbeda yang disebabkan oleh
asosiasi kolokatif dari kedua sifat di atas.
2.6 Makna Kolokatif
Makna kolokatif terdiri atas asosioasi-asosiasi yang
diperoleh suatu kata yang disebabkan oleh makna kata-kata yang cederung di
dalam lingkunganya. Kata cantik dan gagah memiliki dasar yang sama dalam arti
sedap dipandang, namun demikian kata itu bisa dibedakan menurut beberapa kata
benda lain yang mungkin menyertainya atau enjadi sandingannya.
Sudah barang tentu susunan kata-kata
benda itu dapat saja terjadi saling tukar sebagai contoh wanita itu gagah dan
wanita itu cantik, kedua bentuk pemakaian itu sama-sama diterima mesipun
kata-kata itu mengisyaratkan daya tarik yang berbeda yang disebabkan oleh
asosiasi kolokatif dari kedua sifat di atas. Tidak semua perbedaan dalam suatu kasus
yang potensial harus dijelaskan sebagai makna klokatif arena ada yang mungkin
disebabkan oleh perbedaan stilistik yang lainkarena perbedaan konseptual.
Meskipun kedua kata ituartinya sama, yaiu sedap dipandang jika dipertentangkan
dengan kata wanita menunjukkan permasalahan ketepatan tingkat konseptual. Hanya
kalau penjelasan menutrut kategor makna yang lain tidak bisa diterapkan, maka
kita perlu menggunakan kategori khusus mengenai makna kolokatif.pada
tigkat-ingkat yang lain kita dapat mengadakan generalisasi, sementara makna
kolokatif tetap merupakan sifat idiosinkretik (ganajl) dari kata-kata tertentu.
2.7 Makna Tematik
Makna tematik atau makna yang dikomunikasikan oleh cara
penutur atau penulis menata pesannya, dalam arti menurut urutan,fokus dan penekanan.
Sebagai contoh, sering kali kita rasakan bahwa sebuah kalimat aktif seperti “ budi menyumbangkan sembako “
memiliki makna yang berbeda dari kalimat pasif
yang setara “sembako disumbangkan oleh budi”
Tentu saja kedua kalimat diatas memiliki nilai
komunikatif yang berbeda, dimana
keduanya menyuguhkan konteks yang berlainan. Namun demikian, terdapat kondisi
nyata yang sam-sama cocok dengan kedua kalimat diatas, yakni: rasanya mustahil untuk menemukan situasi
dimana kalimat(1) adalah laporan yang akurat, sementara kalimat(2) tidak akurat
dan sebaliknya.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Studi semantik diartikan sebagai bidang
dalam linguistik, yang meneliti atau membicarakan tentang makna bahasa sebagai
objek kajiannya. Semantik ini perlu di kedepankan karena dalam kebudayaan kita
yang mempunyai makna itu bukan hanya bahasa melainkan juga berbagai lamabang,
simbol, tanda-tanda lainnya. Fokus
kajian semantik hanya makna bahasa, bukan semua macam makna yang ada dalam
kehidupan kita. Sedangkan bidang studi yang mengkaji berbagai macam makna yang
ada dalam kebudayaan kita disebut semiotika.
Makna bahasa itu bermacam-macam dilihat
dari segi atau pandangan yang berbeda. Hal ini disebabkan karena bahasa
digunakan dalam berbagai kegiatan dan keperluan manusia dalam melakukan
interaksi sosial. Sehingga melahirkan berbagai konsep tentang jenis-jenis makna
yang mencakup makna dasar, konotatif, stilistika, afektif, refleksi, koloaktif,
konseptual, tematik, leksikal, gramatikal, kontekstual, referensial,
non-referensial, denotatif, konotatif, asosiatif, makna kata, makna istilah,
idiom, dan peribahasa.
Daftar Pustaka
Leech,Geoffrey.2003.Semantik.Yogyakarta; Pustaka Pelajar